Kolam renang disamping rumah

Kolam renang tidak hanya sebuah mimpi, bila Anda mau meraihnya

Ruang tamu yang elok

Biarkan tamu merasa betah bertandang kerumah Anda

Ruang pribadi yang indah dan menyenangkan

Memanjakan diri itu perlu, keperluan pribadi yang tercukupi akan menjadi hidup lebih releks

Ruang tidur bernuansa kesegaran alam

Istirahat dengan kuwalitas bagus, diri Anda dimanjakan untuk rehat, keletihan Anda akan diganti dengan kenyamanan

Ruang keluarga yang ceria

Rumahku istanaku, menjadi idaman setiap orang, termasuk Anda juga

Senin, 23 Januari 2012

Komen dulu , baru .....

Komen dulu baru mikir.

Sudah membudaya dikebiasaan kita, Anda dan saya, lebih dulu mengucapan komentar dari pada mengetahui dan mengamatiapa sebenarnya terjadi.
Saya mengatakan membudaya karena memang demikian. Yang saya tahu persis kebiasaan orang Jawa. Ooops ... tidak bermaksut menyinggung kesukuan, karena saya juga ada didalamnya.
Kenyataannya memang demikian.
Saya sudah amati sejak tahun 60an, gamblangnya seperti tulisan saya ini.
  • Diawal tahun 60an yang namanya sandal jepit itu dibilang "sandal Jepang" Karena mirip sandal yang dipakai orang jepang dan mungkin diimport dari bekas penjajah negara kita. Orang berkomentar : sandal jepang mudah rusak, masih awetan bakiyak/theklek kayu murah kalau rusak bisa mudah diperbaiki. Akhirnya toh orang banyak memakai sandal jepit yang dibilang sandal jepang.
  • Masih di masa yang hampir bersamaan Sepeda motor Produk Jepang masuk Indonesia. Waktu itu orang mengatakan : Jepang kok buat motor, Jepang itu bisanya buat sandal. Kalau disuruh milih ya pilih Norton, DKW, BSA, Duqati kuat, bagus, dan awet. Tidak kayak buatan Jepang gampang rusak. Dan lagi-lagi sejarah membuktikan kalau barang Jepang bisa jadi primadona di negeri kita. Sampai ada orang mengatakan, "Pak Sastro beli Honda mereknya Yamaha" Waaah ... Honda sudah menjadi merk yang nyantel di pikiran orang kita.
  • Termasuk juga barang elektronik dari Jepang, mereka katakan barang produk jepang tidak mutu, jelek, gampang rusak dan bla..bla..bla... Sekarang orang Anda sendir tahu bagaimana pendapat orang terhadap barang Jepang.
  • Selanjutnya barang Taiwan ikutan masuk ke Indonesia. Ceritanya tidak jauh beda, mereka mengatakan :"Barang buata taiwan sekali pakai, rusak tidak bisa diperbaiki, jelek dan tidak mutu. Lebih baik beli barang bekas buatan Jepang dari pada baru buatan Taiwan" Disini kita sudah bisa tahu bahwa barang Jepang sudah diakui kebaikannya dan menjadi barang yang punya kelas.
  • Tidak begitu lama berselang barang Korea ikut meramekan pasar di Indonesia. Komennya lebih kejam :"Korea-Korea kok buat barang, barangnya jelek, nggak mutu, gampang rusak. Korea-Korea bisanya cuma bisa dipakai ganjel meriam (landasan Meriam pelontar bom) Nasibnya juga sama seperti barang import yang lain. Bagaimana orang mencari barang produk Korea.
  • Yang masih hangat di ingatan kita, produk import dari China. saya tidaklah perlu bercerita banyak. Yang jelas produk China sekarang merajai pasar Indonesia. Hampir bisa diakata orang kalangan menengah kebawah sedikitnya punya satu produk China. Yang dulu dihujat, dicaci maki, dianggap rendah, sekarang diterima dengan antusias. Dan sekarang ngomong komennya beda :"Beli saja produk China murah meriah kalau rusak diperaiki biayanya juga murah, kala sampai tidak bisa diperbaiki ya beli baru lagi saja, kan murah nggak rugi-rugi amat"

Nah ... sekarang bagaimana dengan Anda ?





Mindset Aji mumpung

Aji Mumpung

Dosa ?

Di Buku undang-undang melanggar pasal berapa, ayat berapa dan dakwaannya apa?

Ada-ada saja. Syah-syah aja lagei ....
Mumpung lagi diatas, mumpung lagi hokie, mumpung lagi laris, mumpung lagi hujan, mumpung lagi cerah, mumpung lagi ngetop, mumpung lagi menjabat, mumpung lagi gampang cari duit, mumpung lagi lancar, mumpung lagi dapat peluang dan .... buanyak lagi mumpung yang lain.

Asaaaal ......... yang positif, tidak merugikan orang lain, sopan, santun, tidak melanggar kode etik, bertanggung jawab, wajar dan tidak mengijak sesama.

Kalau semua mumpungnya sudah lewat siapa yang akan memberi lagi, apakah yang berkomentar miring dan sumbang itu yang ngasih. nggak mungkin lah ... mana mau dan mana punya.
Uuuuuuh ...... orang bisanya komen tapi mereka ndiri juga demen, jangan muna ..... !

Mindset Borju

Kawula Alit, arane wong cilik, sing asring disepelekake. Sing rumangsa dadi ningrat lan duwe pangkat biasane lali sapa sejatine. Manungsa kalaerake jebrol jabang bayi kabeh pada. Pada-pada kawulaning Gusti Inkang Maha Agung, pada-pada sangang sasine. Nanging yen wis bisa mikir, ngrasake lan pilaku, lha kok terus malangkrik, mathing-mathing, sakkarepe dewe, nyepelekke marang wong liya.
Lha ya mbok pada dilaras, sing mbedakake kuwi ya mung pikiranne manungsane dewe. Mula ta mula, aja dumeh ana ing papan nduwur terus ora bisa tiba, uga ing pungkasane urip kabeh bakale tilar, bali mulih neng papan kelanggengan ora nggawa apa-apa.

Urip sing maton, pancen sira pinasti kalairake dadi yogane wong tuamu. Sira ora isa milih njaluk di lairke sapa, saiki sing penting, awit saka pangerten iku mau, pada elinga yen rumangsa dadi "ningrat" nduwe "pangkat" aja terus ngideg-ideg titah sing kalair dadi wong lumrah.

Pamikir sing kaya ngono kudu diowahi, cikben urip dadi panutan marang turun kang uga dadi becik ati, rasa, pamikir lan tindak tanduke.

Rupa elek, ayu, nyengsemake lan sakpitungale kuwi pada bae, pungkasane mesti mati.
Sing kere, sugih, gombal lan sing lagi di paringi jatah mulyo lan duwe kuasa, elinga sira uga pada ngenteni gilir urip tekane pati.

Minggu, 22 Januari 2012

Mindset "Penonton"

Jangan senang cuma jadi penonton, jadilah pemain.
Anda ngefans kepada Titus Bonai atau Ronaldo atau Rooney. Mungkin Anda kagum dan sebagian ingin jadi seperti mereka. Jadi selebrity dielu-elukan. Bayarannya gede banget dan dikontrak perusahaan sana-sini, mencetak pundi-pundi dollar dengan mudahnya.
Tapi jangan Anda mengiri dengan kesuksesannya tapi irilah dengan perjalanan menuju sukses itu yang mesti ditiru.

Gratis dan Di Bayar



Wuaaaah ... enak banget kalau bisa begitu. Gratis dan dibayar. Semua orang pasti suka, apalagi tanpa syarat dan ketentuan, saya yakin banyak orang akan berebut.
Terus terang saya belum pernah tahu, kalau diantara para pembaca tulisan ini yang mengetahui ada yang gratis dan dibayar mohon informasikan ke saya supaya bisa saya publikasikan kesemua orang.

Gratisan harus bayar juga

Apakah ada yang 100% gratis ?

Mari kita telusuri arti Gratis yang sangat kita sukai itu.
Memang kita mendapat gratis, tapi sebenarnya kita sangat dibatasi dengan adanya label gratis tersebut.
Sebenarnya ada yang harus kita bayar, cuma bayarnya tidak pakai uang.
Yang gratisan kita harus bayar sbb :

  • Kita tidak bisa mendapatkan fasilitas seperti yang berbayar
  • Gerak langkah kita terbatas
  • Akses kita juga tidak bisa bebas tanpa hambatan
  • Kita tidak mendapatkan yang plus-plus seperti yang berbayar
  • Waktu kita juga harus banyak kita keluarkan
  • Ilmu yang kita dapatkan sangat terbatas, karena ada yang harus dibayar.

Suatu saat Anda pasti akan terbentur dengan yang namanya keinginan lebih tapi dibatasi karena Anda ikut program yang gratisan. Misalnya Anda mendaftar jadi member yang free pasti Anda belum punya hak akses ke dalam member area. Jadi yang Anda dapatkan baru kulitnya saja belum isinya.

Saya maklum dengan Anda, karena sayapun demikian, contohnya saya ikut satu program bisnis disalah satu Pembelajaran Bisnis Online. Waktu saya baru daftar sebagai free member, saya baru dapat keterangan sedikit sekali dan rasa ingin tahu lebih dari yang gratisan saya putuskan harus berani bayar harga.

Kalau kita bicara gratis 100% itupun sebenarnya tidak demikian.
Anda bisa akses internet itupun harus bayar, minimal bayar pulsa. Belum harga perangkatnya yang harus Anda beli. Oke ... Anda bilang Anda bisa pakai fasilitas kantor nggak bayar, harap Anda ingat untuk Anda bisa pakai fasilitas kantor kan Anda harus jadi karyawan/pegawai di kantor tsb. Belum waktu yang Anda gunakan apakah juga gratis. Tidak ada yang gratis untuk waktu yang Anda pakai, ketahuilah waktu yang Anda pakai Anda harus bayar dengan berkurangnya umur Anda.

Jadi kesimpulannya : jangan biasakan dengan gratisan, bayar kalau memang harus dibayar. Termasuk harus bayar pakai waktu, tenaga, pikiran dan lain sebaginya.




Mindset Gratisan


Satu kata yang paling disuka semua orang, ya ... semua orang.
Siapa yang tidak suka "Gratisan" alias "Free" atau kata orang sebrang "Percume)
Oooops ... tidak usah Anda jawab karena saya tahu jawabannya pasti "ya saya suka gratisan"
Sayapun sama dengan Anda, suka yang gratis. Sampai soal bisnispun saya juga cari yang gratisan.

Mindset Gratisan ini yang perlu dirubah. Saya sebagai penulis tidak memungkiri kalau saya juga menggunakan yang gratisan. Buktinya saya buat Blog ini juga gratisan.
Apa iya gratisan, hari gini cari gratisan ...... mana ada ?

Memang bejibun jumlah yang menawarkan gratisan, lihat saja dengan cari di search engine Google misalnya, nanti pasti akan buanyak banget yang menawarkan gratisan.